“She generally gave herself very good advice, (though she very seldom followed it).”
― Lewis Carroll, Alice’s Adventures in Wonderland & Through the Looking-Glass

Sore yang mendung di cafe buku ‘AllAboutBooks’.
Vidania and Arianty tengah menikmati cangkir kopi pertamanya.
“Vi, kenapa ya makin kesini gw berasa makin ga klik ama dia? It doesnt feel right anymore.”
“Hmm.. emang remote tipi pake klak-klik segala, Ar.”
“Yeee….”
“Emang gimana ceritanya bisa begitu?”
“Awalnya sich berasa normal2 aja. Emang ga ada yang sparking like a firecrackers sich. Dalam perjalanan waktu, it’s just getting worst, he makes everything felt as it was just coincidence, instead of a miracle. He makes me feel like a peasant, instead of a princess. Even when he talks about the future, it seems like more burden gonna fall into my shoulder. He discouraged me even we were just talking about imajination. He is not a such comforting travel buddy. He is also not a good listener at all, klo gw cerita apa gitu bawaannya langsung counter cerita tentang dirinya..arrgghh!”
“Hmm… such a deal breakers** ya.”
“Yeah, terus gimana donks. Serius nich.”
“Begini lho, ada 3C yg semestinya dipertimbangkan sebelum memilih ‘bersama’ atau berkomitmen dengan seseorang.”
“3C apaan, Vi?”
“Compatibility, Chemistry, Connectivity.”
“Bisa aja loe bikin istilah… Maksudnya?”

“Satu-satu ya… Compatibility atau Kecocokan bisa diartikan sebagai kemiripan pilihan lifestyle dan value antara dua orang. Orang2 dengan perbedaan ekstrim dalam hal gaya hidup dan nilai-nilai dasar hidup nya sangat tidak mungkin untuk berpasangan. Kemiripan ini sangat diperlukan untuk terbentuknya hubungan jangka panjang antara dua orang. Inget peribahasa ini kan, ‘Birds with the same feathers flock together’? Cuma orang-orang dengan kemiripan pemikiran tentang nilai-nilai hidup nya yang bisa gaul bareng. Klo dasar nilai2 yg kita pegang kagak sama or kagak mirip or bahkan berlawanan ya jadinya debat mulu ga abis2nya, ga ada titik temunya. Gimana mo nyaman barengan ma orang yang disagree mulu ma kita or yang silently disagree.”

“Yup, bener, tapi terkadang setelah beberapa saat bersama baru kita menyadari ternyata ada banyak hal yang enggak kompatibel dengan pasangan kita. Dan kesadaran yang terlambat ini bener2 bikin masalah. Trus klo kemestri?”

“Chemistry itu ikatan emosional yg terbentuk antara dua orang. Ikatan emosional ini yang menimbulkan rasa nyaman dalam kebersamaan, saling berempati, saling bisa memberikan tanggapan positif yang makin meningkatkan kedekatan. Dengan ikatan itu, saat sedang terpisah, masing2 akan saling kepikiran. Semakin tinggi tingkat keterikatan, semakin ‘kecanduan’ lah kedua pihak untuk bisa bersama. Serasa dunia milik berdua, dan waktu terasa berlalu terlalu cepat saat sedang bersama. Dan jadi terlalu mudah untuk bilang cinta dan bla..bla..nya.
Chemistry ini semacam reaksi yg terjadi di otak kita. Entah apa yang membuat chemistry ini muncul, tapi kita bisa merasakannya begitu bertemu dengan orang yang tepat. Klo emang di antara kalian berdua ga ada reaksi itu, kayaknya susah ya, coz menurut gw itu semacam default setting di otak gitu. Chemistry itu penting banget untuk urusan di kamar setelah kalian nikah. Yang bahaya dengan ‘chemistry’ ini jika bagian otak yang mengendalikan nya collided dengan bagian otak yang berurusan dengan addiction, then setelah semua harus berakhirpun pun ga akan semudah itu melupakannya. Sekalipun dengan tingkat chemistry yang berbeda, kamu masih tetap bisa menerima  orang itu. Bahkan bisa aja sich orang nikah hanya sekedar karena mereka cukup compatible, tapi tanpa level chemistry yang cukup, jadinya ya kayak tanda tangan kontrak doank, kewajiban doank, sekedar status, hubungan yang seadanya. Memang nggak masalah suatu hubungan dijalani tanpa chemistry jika disepakati kedua belah pihak, tapi jika satu pihak mulai merasakan emptiness a.k.a kekosongan , di situlah mulai muncul persoalan. Hambar. Garing bo!… as dry as Sahara desert, then one hour of togetherness feel like a century. ”

“Iya Vi, gw tau banget bagian itu, sampe keabisan bahan omongan, bahkan berasa lebih nyaman sendiri daripada bersamanya.”

“Hahaha… parah loe, Ar. Tetapi sebaliknya kalo tingkat chemistry yang tinggi dengan compatibility rendah, juga ga ok lho. Hubungan yang kayak gini membuat mu merasa sangat menginginkannya sekaligus membencinya. It’s felt so right and so wrong at the same time. Rantai penyiksaan emosional yang membuat mu tak berdaya. Sekalipun akhirnya kamu bisa melepaskan diri, kamu ga akan pernah bisa melupakannya. Tragis. But chemistry can fade away through times, as our cells keep regenerating each day. Nothing can beat the power of time. Perubahanlah yang abadi, sist.”

“Aduh Vi, kok hubungan dua orang aja seribet itu ya…”

“Mo dibikin ribet or enggak kan pilihan Ar, mo ditelaah mendalam, or sekedar go-with-the-flow terserah yang ngejalanin kan?”

“Masih ada C yang ke tiga tadi Vi?”

“Connectivity itu kemampuan dua pihak tadi untuk mengkomunikasikan segala sesuatu dalam hubungan itu. Keterhubungan ini penting untuk membangun suatu relasi, untuk mendorong terbentuknya emosi positif, untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan keadaan, mempertahankan kesaling-pedulian…halah….”

“Hmm..kayaknya emang tidak ada cukup 3C untuk bertahan dengan ini,Vi…”

“Ya…terserah penilaian loe. Ga ada Mr Perfectly Right di dunia ini lho, so sometimes you gonna get trouble with your set of standards. Bukan enggak mungkin, tapi berat juga menemukan orang yang tepat yang bersamanya ke-3C -an itu terpenuhi semua pada level tertingginya, yahh yang pas-pas aja lah. Tapi juga jangan ngasal ya. Menikah emang ga cuma butuh cinta, tapi menikah tanpa cinta membuat hidup terasa hambar. Marriage is a choice kok, don’t feel like you were rushed by external pressure. Toh, you can still survive without marriage. Enjoy aja! Segala sesuatu indah pada waktunya kok.. dan percayalah all the way lead to the one God had prepared for you. Tetaplah berdoa, sist.”

“Wacana loe enlightening bgt Vi, thanks ya…”

Sore berganti malam, rintik hujan mulai turun.

*Our heart got hardened through times, bittered by memories, but keep the faith that His touch can surely change this bitter to sweet as He can make crooked paths straight, raise valleys, and lower mountains.

**what are your deal breakers ?(http://www.huffingtonpost.com/2012/01/23/heidi-klum-and-seal-divor_n_1223976.html)

***Move-on tidak selalu berarti punya relasi baru, tapi lebih ke tidak lagi membiarkan masa lalu memberati langkah hari ini. (http://helpguide.org/mental/coping_divorce_relationship_breakup.htm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s